Wajah Rainas 2008 di Malam Hari Print E-mail
Posting by Irwan Riduan   
Monday, 07 July 2008

Image

Jakarta, Lapangan Utama menjadi saksi bisu atas Pentas Seni Raimuna Nasional (Rainas) IX di waktu malam hari. Usai melakukan kegiatan pagi hingga sore hari yang tentu sangat melelahkan, mereka (peserta Rainas-red) sekedar melepas lelah, para peserta yang merupakan kumpulan anak muda nusantara berbondong-bondong dari kemah menuju lapangan utama Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta. Mereka bergabung untuk menyaksikan pertunjukkan pentas seni daerah yang kemudian dilanjutkan musik (band) dengan menghadirkan artis-artis seni dari Ibukota. Selama sepekan lebih, 27 Juni – 7 Juli 2008, di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta, para kaula muda se-Indonesia mengadakan pertemuan besar yang bertajuk Raimuna Nasional IX Tahun 2008.

Hari pertama pentas seni, yaitu pada tanggal 29 Juli 2008, para peserta dengan tekun dan antusias menyaksikan Kebudayaan Daerah yang beraneka ragam, terlebih bersemangat ketika kebudayaan daerah mereka ditampilkan di panggung. Waktu itu, pertunjukan Pentas Seni dihadiri oleh kontingen daerah (Konda) Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Maluku, Papua, Sumatra Utara.

Propinsi yang pertama tampil adalah dari Konda Maluku, kemudian dari Konda Kalimantan Tengah. Sementara Konda dari Jawa Barat menampilkan tarian Rampak Gendang utusan daerah Sumedang. Penari Rampak Gendang terdiri dari penari putra dan penari putri dengan jumlah maksimal sebanyak-banyaknya. Tarian tersebut biasa ditampilkan dalam pembukaan acara, upacara penyambut tamu, dan sebagai pelestarian budaya sunda tentunya. Tari Rampak Gendang sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Sunda, apalagi dikalangan para Aparat Pemerintah dan Aparat Pertahanan Negara seperti KOSTRAD pada saat ulang tahun TNI di Jakarta.

Sebagai penutup acara pentas seni malam pertama tersebut tampil seni daerah dari wilayah Timur Indonesia, yaitu Papua. Tarian tradisional Kabupaten Sarmi memiliki arti tentang cerita masyarakat untuk mencari dan menangkap ikan di Laut atau sungai dengan kerja sama agar dapat menghasilkan yang terbaik. Tarian yang menggambar sikap kegotongroyongan ini ditampilkan oleh 20 oarang Pramuka Penegak dan Pandega dari Kwarcab Sarmi, Papua, yaitu terdiri dari 6 Putra dan 6 Putri yang bergandengan serta 8 orang sebagai musisi alat musik.

Patut bangga kita sebagai warga negara Indonesia yang kaya akan ragam budaya, suku, ras, bahasa dan agama, tetapi tetap satu seperti semboyan Bhinneka Tunggak Ika, ujar Riduan, crew Jurnal Rainas IX tahun 2008.(Humas KN)

Last Updated ( Tuesday, 08 July 2008 )
 
< Prev   Next >
 
Member Online
No Users Online
 
 Top
WOSM
Asia-Pacific Region
Pramuka
HIPPRADA
Scout Fellowship