Terhadang Cuaca, Jenazah Pungkas Belum Bisa Dievakuasi Print E-mail
Posting by Administrator   
Friday, 11 July 2008

Terhadang Cuaca, Jenazah Pungkas Belum Bisa Dievakuasi

Harian Kompas, Jum'at, 11 Juli 2008

JAKARTA, KOMPAS - Hingga Kamis (10/7) malam, pihak keluarga Pungkas Tri Baruno (20) masih menunggu kabar kepulangan jenazah anggota Pramuka yang tewas saat turun dari puncak McKinley, Alaska, Amerika Serikat, Senin waktu setempat atau Selasa (8/7) WIB.

Informasi terakhir yang diterima ayahnya, Mumpangat, menyebutkan, evakuasi jenazah mahasiswa Jurusan Desain Interior Universitas Mercu Buana angkatan tahun 2007 itu masih terhambat cuaca buruk.

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menginformasikan bahwa jenazah Pungkas belum dapat diturunkan dari puncak Gunung McKinley karena cuaca buruk. ”Kami terus mengadakan kontak dengan Konsulat Jenderal RI (KJRI) di San Fransisco untuk memonitor,” kata Hassan.

”Pencarian lokasi tidak menjadi masalah karena banyak tim lain di sekitar Pungkas. Hanya upaya penurunan jenazah yang menjadi persoalan karena cuaca buruk,” ujar Hassan.

Dikatakan Mumpangat, anak ketiganya itu berangkat bersama timnya 12 Juni lalu setelah upacara pelepasan di Cibubur. Misi itu direncanakan selesai dalam 28 hari. Tim tersebut diketuai Bayu, dengan anggota Zulfa Ahmad dan Agai. Zulfa adalah kawan dekat Pungkas—sama-sama aktif di Pramuka dan organisasi pencinta alam sejak SMP dan SMA.

”Mereka mempersiapkan diri tiga bulan untuk latihan fisik dan teknik. Mereka berlatih dengan mendaki Gunung Salak, Gunung Gede, dan salah satu gunung di Bandung,” kata Mumpangat.

Konfirmasi meninggalnya Pungkas diterima dari Park Rangers dan pihak swasta penyedia jasa pemandu pendakian gunung. Ia tewas Senin malam sekitar pukul 09.40 waktu Alaska (12.40 WIB), disaksikan pemandu jasa pendakian dan anggota tim, di ketinggian sekitar 1.666 meter.

Pungkas berhasil menancapkan bendera Merah Putih di puncak McKinley. Dalam perjalanan turun, dia mengeluh pusing sebelum tidak sadarkan diri akibat cuaca buruk dan kelelahan. Pemberian pertolongan pertama melalui napas buatan gagal.

Upaya evakuasi jenazah, baik melalui prosedur biasa (jalan darat) maupun helikopter, sulit dilakukan karena cuaca buruk. Pihak KJRI San Fransisco membawa jenazah ke base camp terdekat di Talkeetna dan divisum untuk memastikan penyebab kematiannya.

Ikhlas dan bangga

Atas kematian Pungkas, Mumpangat menyatakan, pihak keluarga sudah ikhlas. ”Kami bahkan bangga anak kami meninggal dengan terhormat,” katanya.

Rencananya, setibanya di Indonesia, jenazah akan disemayamkan di Kantor Kwarnas sebelum diserahkan kepada keluarga. Jenazah akan disemayamkan di Kampung Asem, Larangan, tak jauh dari rumah duka di Jalan Teratai II/27, Larangan Indah, Cileduk.(kompas.com/msh/fro)

 
< Prev   Next >
 
Member Online
No Users Online
 
 Top
WOSM
Asia-Pacific Region
Pramuka
HIPPRADA
Scout Fellowship