PRAMUKA PEDULI PADA MEREKA YANG MEMANG TIDAK PUNYA BANYAK PILIHAN Print E-mail
Posting by Rahman   
Wednesday, 21 February 2007
ImageJakarta (19/2), Mungkin sedikit orang DKI Jakarta yang tahu letak pemukiman atau Lapak Pemulung Gunung Balong. Lapak Gunung Balong, sebuah pemukiman komunitas pemulung bertempat di Jalan Lebak Bulus III, RT. 011/04, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Tempat ini mereka sebut sebuah lapak dan mereka tidak mau disebut sebuah pemukiman. Komunitas yang berjumlah 139 kepala keluarga ini, mayoritas berasal dari Cikarang, Jawa Barat  dan sehari-harinya bekerja sebagi tukang sampah atau pembesih lingkungan di RT dan RW setempat.

Kontras pemamdangannya, karena letaknya dikeliling oleh rumah-rumah mewah dan bahkan apartemen berdiri dengan megah tidak jauh dari lokasi pemukiman. Kelompok ini punya ketua bernama pak Marta dan warganya biasa memanggil dengan sebutan Bos.  Usut punya usut ternyata pak Marta inilah yang mengkoordinir dan menampung sampah-sampah hasil warganya dan bahkan ketika warganya tidak punya uang, pak Marta siap meminjamkan uangnya.

Keadaannya sangat menyedihkan, area seluas + 2000 m2 ini tidak layak untuk tempat tinggal. Persyaratan hidup sehat seperti tersedianya MCK dan lain sebagainya  jauh dari standar kesehatan. Mereka memang tidak ada pilihan lain kecuali menempati pemukiman ini. Yang lebih mengenaskan mereka yang menempati area ini mengontrak kepada pemilik tanah, jadi sewaktu-waktu bisa saja pemukiman ini akan segera digusur.

ImageHari Sabtu (17/2), Satgas Pramuka Peduli Kwarnas Gerakan Pramuka mengunjungi tempat pemukiman ini, kegiatan ini salah satu rangkaian aksi Pramuka Peduli Banjir karena pemukiman ini juga pada saat yang sama mengalami banjir. Sebagai informasi bahwa saat wilayah DKI Jakarta terendam banjir, Satgas Pramuka Peduli Kwarnas mendirikan Posko Pramuka Peduli Banjir pada tanggal 3 – 9 Fabruari 2007 beralamat di Jalan Dewi Sartika No. 85, Cililitan, Jakarta. Posko yang dilengkapi dengan radio panggil (RIG) melakukan kegiatan, yaitu mengevakuasi korban banjir, pelayanan kesehatan/pengobatan dan pengadaan dapur umum (penyediaan nasi bungkus). Walaupun Posko ditutup tanggal 9 Februari 2007, pelayanan penyediaan nasi bungkus tetap dilakukan hingga tanggal 11 Februari 2007.

Kunjungan yang langsung dipimpin Waka Kwarnas Bidang Abdimas dan Humas Kwarnas Gerakan Pramuka/Ka Satgas Pramuka Peduli, Parni Hadi di dampingi Sesjen Kwarnas, Dr. Joedyaningsih, SW, M.Sc (PH) serta beberapa Andalan Nasional Gerakan Pramuka menyerahkan bingkisan berupa paket sembako, memberikan pelayanan kesehatan/ pengobatan cuma-cuma kepada warga korban banjir dan penyuluhan kesehatan pasca banjir, yaitu mengenai penyakit demam berdarah. Paket bantuan yang berisi beras, mie instant, biskuit, susu, gula, minuman mineral dan lain-lain merupakan bantuan dari pihak donatur saat Pramuka Peduli mendirikan Posko Banjir di Cililitan sejak tanggal 4 Februari 2007. Bantuan secara simbolis diserahkan Kak Parni Hadi kemudian dilanjutkan Sesjen Kwarnas, Dr. Joedyaningsih.

Dalam kunjungan ini, Satgas Pramuka Peduli menyertakan 4 orang dokter dan beberapa para medis termasuk anggota Satuan Karya (SAKA) Bakti Husada Jakarta Selatan.

Kak Parni Hadi dalam sambutannya menyampaikan bahwa “hari ini kita memberi contoh kongkrit betapa kita harus peduli pada orang miskin. Kalau banyak sekali pejabat, tokoh partai politik datang berkunjung ketempat korban banjir saya pikir jarang  yang datang ketempat sekumuh ini, datang ketempat para pemulung. Pemulung ini tugasnya membersihkan sampah, sekarang jadi korban banjir dan sampahnya hanyut atau rusak terendam air”

“ini tidak cukup dibantu oleh Pramuka hari ini. Ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak termasuk pemerintah, partai politik, calon Gubernur, calon Menteri. Perhatikan orang miskin seperti ini. Yang penting bukan hanya dibantu sekarang tapi bagaimana nasib mereka ke depan apalagi tanah yang ditempati ini milik orang yang dikontrak kepada orang miskin”, ujar Kak Parni

“Kalau orang kaya mungkin masih punya simpanan, kalau ini simpanannya sampah. Jadi harta bendanya adalah sampah. Sampah adalah barang buangan, tapi untuk pak Bos dan kawan-kawan hartanya sampah. Membantu masyarakat di sini tidak mudah, karena ini bisa saja nanti dipersoalkan. Itu orang tidak punya KTP, orang tidak bisa ditertibkan. Kok harus dibantu. Tapi soalnya adalah kita harus membantu. Kami peduli pada mereka yang memang tidak punya banyak pilihan”, kata Kak Parni di depan warga yang mengenaskan nasibnya dan perlu mendapat perhatian pemerintah daerah ke depannya.

Dari sisi lain, Kak Nuning, Pembantu Andalan Nasional atau dikenal sebagai aktivis sampah menyampaikan bahwa “tukang sampah dan pemulung adalah agen lingkungan hidup/pelaku penting dari penyelamatan lingkungan hidup. Kalau tukang sampah/pemulung sebagai pelaku penyelamatan lingkungan hidup, diharapkan dapat  mendidik dan merayu masyarakat atau para langganannya agar mau memilah sampah disetiap rumah tangga”.

Pemilahan sampah sudah menjadi keharusan sekarang ini, dan kalau ini terwujud, banjir akan sangat-sangat jarang terjadi, ujar Kak Nuning.

Sumber : Siaran Press Kwarnas no. 13  /HK-II/2007
Last Updated ( Wednesday, 21 February 2007 )
 
< Prev   Next >
 
Member Online
No Users Online
 
 Top
WOSM
Asia-Pacific Region
Pramuka
HIPPRADA
Scout Fellowship