Pramuka :Aku Ingin Menjadi Pandu Ibuku... Print E-mail
Posting by Administrator   
Wednesday, 21 November 2007

Harian Kompas, Selasa, 20 November 2007,

"Kekurangan jiwa bukan beban derita, kekurangan jasmani bukan untuk diratapi, bukan pula untuk disesali. Semua karunia Tuhan Yang Maha Esa. Walau dengan keadaan tidak sempurna, kami juga putra-putri bangsa. Punya kewajiban dan tanggung jawab, ingin menjadi pandu ibuku..."

Cuplikan puisi yang dibawakan oleh seorang pemuda tunadaksa, Stefanus Thomas Yusanto, ini begitu menyentuh hati. Stefanus yang duduk di kursi rodanya, di bawah terik matahari, membacakan puisi tersebut di depan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault.

Adhyaksa Dault membuka Perkemahan Pramuka Luar Biasa Tingkat Nasional 2007 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Senin (19/11). Perkemahan pramuka penyandang cacat ini akan dilangsungkan hingga 24 November 2007.

Perkemahan yang digelar Kwartir Nasional Gerakan Pramuka ini diikuti pramuka berkebutuhan khusus dari 30 provinsi, mulai usia 11 tahun hingga 17 tahun yang memiliki berbagai kecacatan, seperti tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita, tunalaras, dan tunaganda.

Perkemahan yang bertema "Binadiri, Raih Prestasi dalam Kemandirian" ini bertujuan melatih kepercayaan diri dan kemandirian para anggota pramuka berkebutuhan khusus ini. Acara ini sekaligus mendorong mereka terus meningkatkan kualitas diri.

Pantang menyerah

Adhyaksa Dault dalam sambutannya menyelipkan pesan bagi para peserta perkemahan bahwa meskipun mereka memiliki keterbatasan fisik dan mental, hendaknya para pramuka luar biasa ini pantang menyerah, mampu mandiri, dan menjadi pramuka yang memiliki jati diri yang tangguh.

"Tidak semua orang berbadan sehat jiwanya sehat. Banyak orang yang berbadan sehat, tapi jiwanya sakit. Banyak orang ganteng, tapi menjadi pencandu narkoba. Kalian tidak perlu berkecil hati dan harus terus mengembangkan diri agar lebih baik dalam segala hal," kata Adhyaksa Dault.

Pada pembukaan perkemahan tersebut, anggota pramuka berkebutuhan khusus ini menyuguhkan berbagai keterampilan dan atraksi kesenian. Selain membaca puisi seperti yang dilakukan Thomas, mereka juga menari, menyanyi, menampilkan peragaan busana daerah, bermain musik angklung, bahkan meniup pianika.

Meskipun terbatas fisiknya, jika diberi kesempatan, para pramuka luar biasanya ini bisa tampil memukau. (LOK)

 
< Prev   Next >
 
Member Online
No Users Online
 
 Top
WOSM
Asia-Pacific Region
Pramuka
HIPPRADA
Scout Fellowship