Pramuka di Perumahan Print E-mail
Posting by Administrator   
Monday, 05 November 2007

Harian Republika, Minggu, 04 Nopember 2007

Kegiatan jalan-jalan ke mal pun berkurang. Kegiatan pramuka di perumahan lebih menarik anak-anak di Griya Depok Asri.

Farah tidak banyak mengenal teman di sekitar kompleks perumahan tempat tinggalnya. Saat pulang dari sekolah, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. ''Kadang-kadang nonton teve,'' ucapnya.

Sesekali siswi kelas VIII SMP Negeri IV Depok ini keluar rumah di luar jam pelajaran. Itu dilakukan bila ada kegiatan les sekolah. Tapi, tidak jarang juga niat pergi jalan-jalan ke mal menggoda hatinya. Minta uang ke orangtua untuk memenuhi hasratnya sudah kerap ia lakoni. Tapi, jangan salah. Itu dulu, sekitar setahun lalu, saat ia masih duduk di kelas VII. Kini semuanya telah berubah. Teman-temannya bertambah banyak, tak hanya teman sekolah tapi juga teman belia di sekitar kediamannya.

Farah pun merasakan dirinya semakin dewasa. Keinginan jalan-jalan ke mal mulai berkurang. ''Perubahannya banyak. Sekarang banyak teman, jarang lagi minta uang ke orangtua,'' tutur Farah Arinda Kirana, nama lengkap belia yang gemar kemping itu.

Lho, apa yang membuat keseharian dan sikap Farah berubah? Ia pun semula tidak menyadari. Tapi, setelah diurut-urut ke belakang, ia menemukan jawabannya. Ternyata, perubahan itu ia rasakan setelah aktif dalam kegiatan pramuka di kompleks perumahan tempat tinggalnya: Griya Depok Asri, Depok, Jawa Barat.

Selama ini kegiatan pramuka lebih banyak diselenggarakan di sekolah. Itu pun tidak semua sekolah aktif melakukan kegiatan kepramukaan. Memang, ada sekolah yang aktif, tapi ada pula sekolah yang hanya mewajibkan siswanya berpakaian seragam pramuka di hari tertentu tanpa aktivitas kepramukaan.

Tapi, pramuka di perumahan? Itu yang jarang terdengar. Gerakan Pramuka Al Mukhlisun, Griya Depok Asri, boleh jadi, sebagai pioner kegiatan kepramukaan bagi anak-anak di lingkungan kompleks perumahan. Pusat kegiatannya di lapangan dan Masjid Al Mukhlishun yang ada kompleks tersebut. Supaya tidak mengganggu waktu belajar, kegiatan kepramukaan diselenggarakan hari Ahad atau di luar hari-hari sekolah.

Tidak mudah
Adalah Kak Agus Uditomo bersama Kak Retno Haraswati Adam yang semula dipercaya pengurus Masjid Al Mukhlishun menangani pembinaan anak-anak di kompleks tersebut. Aktivitas Kak Agus didukung istrinya, Kak Lita Uditomo. Setelah duduk bersama, sempat terpikir membuat kegiatan cinta alam. Lalu, ada yang mengusulkan, ''Pramuka aja.''

Tapi, apa mungkin? Bukankah kegiatan kepramukaan sudah ada di sekolah? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semula berkembang dalam duduk bersama tersebut. Kak Lita lalu mencari informasi lewat internet. ''Ternyata bisa,'' ucapnya, setelah menghimpun berbagai informasi.

Februari 2007, kegiatan kepramukaan bagi anak-anak di kompleks itu dimulai. Aktivitas pertama, kemping di Cibodas, Jawa Barat. Kegiatan dikemas dalam bentuk bermain, tapi tetap mengikuti rambu-rambu yang diatur dalam kepramukaan.

Anak-anak pada tertarik. Setelah itu, latihan tiap Ahad rutin diselenggarakan. Materi kegiatan disesuaikan dengan tingkat usia. Mereka yang masih duduk di bangku SD dikelompokkan dalam tingkatan Siaga, usia SMP kelompok Penggalang. Kegiatan dikemas dalam bentuk permainan, sembari menanamkan nilai-nilai yang tertuang dalam kepramukaan.

Tingkat Siaga, misalnya. Untuk mengenalkan geografis Indonesia, dibentuk gambar pulau-pulau yang ada di negeri ini. Mereka diminta bermain yang bisa menggambarkan di pulau mana ia berada. Kegiatan semacam itu ternyata cukup efektif, disenangi mereka. ''Sekarang ada anak yang tidak mau diganggu jadwal latihannya,'' ujar Kak Lita.

Kak Agus menyadari, memang tidak mudah memulainya. ''Ada dua tantangan yang kami hadapi. Yaitu, gaya hidup anak-anak sekarang yang cenderung manja dan pandangan terhadap pramuka. Kebanyakan berpikir, pramuka hanya berpakaian tanpa adanya keterampilan,'' tuturnya.

Tenaga pembina juga sempat menjadi masalah. Awalnya diperoleh seorang pembina pramuka, tapi tidak berjalan mulus. Mungkin karena kesibukan yang cukup padat sehingga kerap tidak tepat waktu. Padahal, menanamkan nilai-nilai kedisiplinan --termasuk disiplin waktu-- amat ditekankan dalam pembinaan kepramukaan. Apa boleh buat, berbekal pengalaman yang ada, Kak Agus bersama Kak Lita akhirnya mengambil peran itu.

Awal terbentuk, hanya ada 12 anak yang mau bergabung. Tiga anak Kak Agus dan Kak Lita termasuk di antaranya. Tapi, jumlah itu tidak mengganggu jadwal latihan. Seiring perjalanan waktu, anggota bertambah. Setelah tujuh bulan rutin berlatih, anggota mencapai 30 orang.

Kini banyak kegiatan yang sudah dilakukan sepanjang masa itu. Latihan tidak sekadar baris-berbaris, tapi juga berupa petualangan, halang rintang, lomba masak nasi goreng, atau jurid (berjalan di malam hari sendirian atau bertiga). ''Melalui jurid di malam hari, mereka mengaku menjadi lebih berani berjalan dalam gelap,'' jelas Kak Agus.

Perubahan pada diri para belia itu pun sudah dirasakan. Kak Agus bilang, ''Dari semua kegiatan itu, ada satu hal yang sangat membahagiakan. Anak-anak di lingkungan kami menjadi kompak dan saling peduli. Kedisiplinan dan rasa tanggung jawab yang ditanamkan dalam setiap latihan, Alhamdulillah, mendapat komentar positif dari para orangtua. Mereka merasakan anak-anaknya menjadi lebih mandiri.''

Kak Agus tidak mengada-ada. Farah Arinda Kirana pun menyadarinya. ''Saya merasakan, kayak-nya lebih dewasa,'' ucap siswi SMPN IV Depok yang mengaku juga ikut kegiatan pramuka di sekolahnya itu. bur

 
Next >
 
Member Online
No Users Online
 
 Top
WOSM
Asia-Pacific Region
Pramuka
HIPPRADA
Scout Fellowship