Menyelusuri Makna Memberi Print E-mail
Posting by Hendry Risjawan   
Tuesday, 06 February 2007
London, pertengahan Januari, di pagi hari. Aku tengah terpukau oleh
birunya langit serta binarnya sang mentari. Cabang serta reranting
pohon buah pear dan plum yang tinggi menjulang dan telanjang tanpa
dedaunan itu tampak kontras dengan birunya langit. Suasana pagi itu
tampak cerah dan ceria. Seakan hatiku bersenandung. Berkidung. Betapa
tidak karena beberapa pekan terakhir ini suasana winter yang
melankolis begitu menampak. Dari hari kehari langit nampak kusam
kelabu diiringi rintik gerimis, kadang hujan lebat dan bahkan berangin
kencang.

London, pertengahan Januari, di pagi hari. Aku tengah terpukau oleh
birunya langit serta binarnya sang mentari. Cabang serta reranting
pohon buah pear dan plum yang tinggi menjulang dan telanjang tanpa
dedaunan itu tampak kontras dengan birunya langit. Suasana pagi itu
tampak cerah dan ceria. Seakan hatiku bersenandung. Berkidung. Betapa
tidak karena beberapa pekan terakhir ini suasana winter yang
melankolis begitu menampak. Dari hari kehari langit nampak kusam
kelabu diiringi rintik gerimis, kadang hujan lebat dan bahkan berangin
kencang.

Winter yang melankolis, kelabu...sendu

Tiba-tiba telefon berdering. Aku segera menjawabnya dengan perasaan
bungah, gembira, hatiku menduga-duga siapa gerangan. Oh, ternyata
salah seorang sahabatku. Elsye. Ia bertanya kenapa aku kedengarannya
begitu senang dan bahagia. Kutanya balik dari mana ia tahu kalau aku
bahagia. "Dari getar getar suaramu, Teteh. Aku bisa merasakan, aku
tahu dan kenal dirimu, bukan ?" jawabnya.

Lalu kubilang: "Syukur deh, Elsye. Kamu ko brilyan banget sih. Pinter.
Aku seneng dan bahagia memang," kataku. "Walau bukan karena aku punya
apa-apa." Kedengarannya ia ingin tahu kenapa kali ini aku sangat lain
dan malah bahagia..

"Lagi jatuh cinta ya, Teteh? "

Dugaan Elsye ini mambuat aku tertawa. '"Yeep bisa jadi, El. Tapi bisa
lebih dari itu. " Jawabanku yang satu ini malah membuat Elsa tambah
penasaran. Agar Elye tidak semakin kebingungan, aku teruskan kata-kataku :

"Aku bahagia karena bisa mencoba memberi apa yang kupunya. Tenaga,
kebebasan, waktu, akal budi, perhatian dan yaaa bahkan keceriaan."
imbuhku. 'Ohh I see..' tukasnya.

Mendengar jawabanku itu, aku merasakan betapa sahabatku nampak ikut
bahagia dan bersyukur pula. Karena ia pun tahu, memang akhir-akhir ini
aku tengah dirundung galau tak menentu. Kiranya cocok diumpamakan
sebagai seorang pasien yang lagi menderita sakit, tetapi sang dokter
tak bisa mendiagnosa apa penyakitnya. Aku sempat membuat perumpamaan
seperti itu. Kata yang kuucapkan itu rupanya mengena.

"Oh, Tetehku lagi seneng nih karena bisa memberi," ujarnya. "Hemm,
memberi. Jadi topik kita kali ini memberi, niih ?" Lanjut dia seperti
setengah menyindir.

"Kamu telefon emangnya mau dengar ceramah atau mau diskusi atau
apa..?," tanyaku balik.

"Engga siih. Cuma mau tahu gimana kabarnya, ada perkembangan apa
gituuu, habis aku kawatir banget sama Teteh, terutama akhir akhir ini.
Hampir dua minggu Teteh engga muncul di pengajian kita jadi kawatir
banget, gituuu loh Teh", Elsa menerangkan kekhawatirannya.

"Oh iya aku tahu, makasih. Aku kerjanya rajin nelefonin temen-temen,
masih ingat, kan ? Kalau giliran si Teteh gak nelefon, kalian bingung.
Bener ngggak ?", tanyaku setengah menuntut dalam bumbu canda.

"Bener seratus persen, Teteh tuh orangnya ekstra komunikatif. Kalau
engga mengirim email, ya sms atau nelefon. Nah makanya kalau kita
engga dengar suaranya atau namanya nongol di milis, kita malah yang
jadi bingung. Kan biasanya Teteh muncul secara rutin di salah satu
media kontak itu.. Lagian kalau kita ngobrol di telefon juga bukan
ngegunjing, tapi ya obrolan yang produktif, walaupun kadang Teteh suka
komplain, kritis gitu. Sori ya Teh," rajuk Elsa. Aku
membenarkan. Kufikir kali ini malah dia yang agak judes.

Sahabatku yang satu ini memang "she speaks her mind," begitu kata
orang Inggris. Mengatakan apa adanya. Ceplas ceplos. Kadang galak atau
judes kedengaranya, walau tidak bermaksud menyakiti. Aku sempat mohon
dengan memelas. "Duuh jangan dijudesin Tetehnya dong. Aku jadi sedih".

Lain Elsye, lain pula dengan wong Wonogiri, Jawa Tengah, mas Bambang
yang rajin mengirimkan email dan suportif banget terhadapku itu. Ia
suka komplain jenis lain. Ia suka protes kalau gaya bicaraku macam
khotbah. "Orang jadi terancam bosan lo dengernya kalau gaya
mengutarakan sesuatu darimu model khotbah seperti itu," katanya terus
terang. Hmm aku sempat kesel juga dikritik sama orang Jawa Tengah ini.
Tapi ya aku harus menerima kritikannya untuk kebaikan diriku. Mungkin
selama ini aku tidak menyadari tabiat komunikasiku itu.

"Eiih makasih aku diingetin niih. Sori lah kalau aku sok atau belagak
macam ustadzah aja, padahal aku tak ada potongan untuk tukang ceramah
khan ? Atau mungkin gaya bicaraku sok konsultatif ya ? Bergaya macam
konsultan di mana bagi orang lain bisa begitu menyebalkan ? " begitu
penjelasanku. Akhirnya aku minta maaf, karena aku memang tidak
bermaksud sok menggurui.

Kembali ke Elsye. Ia melanjutkan, "Tapi kita seneng aja ko denger
pengalaman hidup Teteh yang lumayan ruwet dan ribet, sok sibuk
walaupun sibuknya memang beneran. Habis gak mau bagi-bagi siiih.
Anyway, nanti kalau pengajian, giliran Teteh dong kasih kultum,
bagi-bagi pengalaman dan ilmunya ya Teh ?". Aku cuma bisa mengiyakan.

Aku jadi senyum- senyum sendirian mendengar kata-kata "bagi-bagi
pengalaman dan ilmu." Ilmu apa sih yang kumiliki?

"Oya tadi tuh kata kata 'memberi' itu memang ada penjabarannya Teh ?
Bisa diterusin artinya ?" El memulai lagi.

Gunung Kidul, Yogya. Pemberian dari muallaf UK berupa buku Iqro & jilbab.


"OK tadi aku bilang 'Aku bahagia... karena bisa memberi apa yang
kupunya. Misalnya tenaga, kebebasan, waktu, akal budi, perhatian dan
yaaa bahkan keceriaan yaa.'"

"OK, aku coba jabarkan ya. Bahwa saat ini kita, ehh.. aku diberi
nikmat kesehatan fisik berarti aku punya tenaga untuk bantu orang
dengan tenagaku atau fisikku seperti menyopiri * bemoku. Aku punya
kebebasan untuk menolong siapa saja, tanpa membedakan ras golongan,
bangsa, warna dan agama. Kalau soal waktu bisa diatur, walau aku
sempit dan sibuk tetap kuusahakan.

Kemudian Allah memberikan aku sedikit akal budi, maksudnya kita khan
gak bodoh-bodoh amat ya. Artinya di saat aku dihadapkan dengan
kesulitan atau teman yang mendapat kesulitan, aku mencoba membantu
dengan mencari solusi yang kiranya tepat dan memadai. Aku percaya
tidak ada kesulitan di dunia yang tidak bisa kita atasi.

Satu lagi niih, Allah rupanya melimpahkan rasa mudah iba yang dalam.
Empati. Hatiku mudah koyak. Kayaknya rapuh banget gitu. Aku percaya
Allahlah yang menyelipkannya ke sanubari hingga mampu melahirkan rasa
iba, simpati sekaligus empati kepada orang-orang yang terkena musibah,
korban kedzaliman, perang sehingga hatiku tergerak untuk segera
berbuat, setidaknya perhatian.

Nah, sedikit buktinya di saat aku ceria, kamupun ikut bahagia, iya
khan ? Jadi aku pun, agak GR nih, sudah memberi kebahagiaan untukmu,
bukan ?'" jelasku. Syukurlah, loncatan ucapan itu di dalam hati aku
susul dengan istighhfar. Siapa tahu aku baru saja melakukan show off,
riya ?

Sahabatku diam mendengarkan celotehanku. Lalu kusambung:

"Jadi El, dari pengalaman yang Teteh alami dan rasakan, aktivitas
'memberi' itu bukan main maknanya. Dahsyat sekali. Seringnya kita
tidak memahami, mau memberi sesuatu mikirnya lama dan bahkan
menghitung-hitung untung dan ruginya. Aku sendiri tidak menyadari
sampai aku membaca tulisan pengalaman orang-orang, ada beberapa
ungkapan yang aku suka lalu mencocokan dengan hadith-hadith, misalnya
seperti di bawah ini:

"Jika kamu ingin menerima banyak, maka kamu harus lebih dahulu memberi
banyak."…Begitu kira-kira kutipan yang saya baca di sebuah buku.
"Siapa yang ingin dicintai, maka belajarlah mencintai orang lain dulu"
Dan ini yang paling berat buat kita: "Siapa yang ingin dicintai Allah
maka cintailah Rasulnya.'' .
.
"Tapi aku sudah merasakan betapa diri kita sendirilah yang akan
merasakan bagaimana hati diliputi oleh rasa bahagia, ketika kita bisa
memberikan sesuatu kepada orang lain. Jadi sesungguhnya justru kita
sendirilah yang merasakan paling bahagia di saat kita bisa memberikan
bantuan. Selain tentunya, perasaan hati fihak lain yang telah ikhlas
kita bantu.".

"Misalnya apa, Teh?'" sergah Elsye.

"Dari hal-hal yang kecil. Sederhana. Ya, misalnya menjaga anak atau
bayi teman yang berstatus sebagai mahasiswa ketika dirinya yang sedang
belajar untuk menempuh ujian. Mengantar pulang teman yang rumahnya
jauh dan sudah malam. Mengantar sahabat ke bandara yang musti check-in
diwaktu subuh dan seterusnya. Ah pokoknya banyak deh, pokoknya yang
bisa meringankan kesusahan orang, kurang lebihnya begitu ibuu,"
kataku. Menggurui ya ?

Lanjutku, "Jadi memberi atau sedekah itu tidak mesti besar, walaupun
cuma dengan setengah kurma, yang penting ikhlas". Elsyepun tertawa.
"Ah aku engga mau dikasih kurma setengah. Aku mau satu doos dari toko
Zam-zam di Green Street", kelakarnya.

"Sama deh, Teh. Aku juga belum bisa bersadakah dalam bentuk materi,"
lanjut El. Dia nampak menyetujui pendapatku. "Siapa bilang ? Rumahmu
yang dijadikan sebagai tempat pengajian, minimal seminggu sekali,
bukankah itu Elsa sudah memberi ? Itu pun jelas pula sebagai sedekah.
Memberikan tempat untuk perbuatan menuju kebaikan, pastinya sudah pula
mendapatkan pahala. Setidaknya rumahmu mendapatkan baroqah dan rakhmat
dari Allah, bahkan telah pula menolong agama Allah."

Kali ini Elsye agak nampak bingung dengan kata-kata "menolong agama
Allah."

"Artinya..." aku narik napas sebentar, " Elsye memperlancar jalannya
syiar agama, dakwah, buat teman-teman yang ingin meningkatkan
keimanannya, sang gurupun mengamalkan ilmu agamanya, belum rasa
ukhuwah yang terjalin antara kita, jadi berarti Elsye memberi dan
menolong agama Allah. Coba berapa hikmah dan baroqah yang Elsa dapat?"
' Sepertinya Elsa baru menyadari hal ini.

"Bayangkan.. .para malaikat diatas rumahmu yang mengepakkan sayapnya
lalu melaporkan kepada sang Khalik, 'Ya Rabb ummatmu tengah menyebut
dan membesarkan namamuMu,' padahal Allah tahu apa yang ummatnya tengah
lakukan", aku menambahkan.

Akhirnya kututup percakapan di telefon dan kita berjanji untuk jumpa
di pengajian pada Jumat minggu depan. "Bener lo Teh datang ya. Kita
kangen banget niih. Sambel cabe ijo sudah nunggu di kulkas tuh minta
dilahap seusai pengajian," tutup El. Kami pun berpisah saling meminta
maaf dan mendoakan.

Uang jajan untuk si yatim, ' makasih ustadzah..' ucapnya.

Lain halnya dengan sahabatku, yang aku sebut sebagai adik, yaitu Iwan.
Ia pernah tiba-tiba mengeluh pada saat ia mengalami futur, di saat dia
membutuhkan bantuan, seakan orang tak mau tahu dengan problemnya.
Apalagi membantu dalam bentuk materi:

Ia mengeluh, "Perasaan sih saya banyak memberi, membantu gitu loh,
bukan memberi uang siih, maksud saya beri bantuan berupa tenaga dan
fikiran, pengetahuanku, membantu orang, walaupun saya tidak bilang
minta dibayar, mbok ngerti gitu.Tapi di saat saya perlu bantuan, saya
tidak mendapat bantuan tuuh, saya jadi bingung dan gak paham jadinya
nih" , keluhnya.

"Ooops sori. Astaghfirullah al aziim," lanjutnya. Dia rupanya
menyadari kekeliruannya dan menetralisir sendiri. "Kalau begitu saya
mengharapkan dibalas oleh mereka yang saya bantu. Salah ya Teh ? Aku
engga ikhlas dong ya ? Semua buyar deh amalku ya?," sesalnya.

"Ntar dulu Wan. Masalahnya jelas tidak pada awalnya ? Ada hitam di
atas putih tidak. Apa tidak bisa dibedakan dulu antara business atau
amal, atau fisabilillah ? Kalau tidak jelas dari awalnya, memang kita
dan semuanya bisa susah dong. Sorry no free lunch, sir, " ketusku.

"Tapi betul ko Wan, kau tidaklah sendirian. Aku juga kadang suka
begitu frustrasi di saat aku perlu bantuan, butuh bantuan, rasanya
tidak ada yang memberikan bantuan. Diriku merasa banget sedih dan ada
kecewa. Sampai aku kadang terloncat untuk bilang, "Biarin. Lihat ntar
lo. Aku mau hidup sendiri aja, semua kukerjain sendiri aja, aku tidak
boleh bergantung sama orang, aku harus mandiri."

Bukankah itu prinsip yang keliru ? Padahal kita tahu hukumnya, kalau
kita memberi bantuan atau bersadakah mustinya kita tidak harus
mengharapkan balasan dari orang yang kita beri bantuan. Bersedekah
selayaknya dilakukan tanpa pernah mengharap balasan dari orang yang
kita beri, demikian kata beberapa pakar dan hadith. Karena kita yakin
bahwa Allahlah yang akan membalas kita, bukan dari orang yang kita bantu.

"Iya bener, Teh, begitu mestinya ya. Tetapi kadang keikhlasan kita
diuji terus sama Allah ya. Yakinlah bahwa Tuhan akan membalas, tapi
tidak lewat orang yang kita tolong atau beri bantuan. Allah akan
memberi pertolongan dari arah yang tidak kita duga dan ketahui, bukan?'"

'Wan...niiih aku dapat cuplikan dari tulisan Aa Gym: sedekah adalah
penolak bala, penyubur pahala, dan pelipat ganda rezeki. Sebutir benih
menumbuhkan tujuh bulir, di mana tiap-tiap butir itu terjurai seratus
biji. Artinya, Allah yang Maha Kaya akan membalasnya hingga tujuh
ratus kali lipat. Masya Allah ! "

...1 benih=7 bulir> per1 bulir menjadi 100 > 700...kali lipat

Iwan tertawa mendengarkan bahwa balasan itu akan datang 100 kali 7
bulir, berarti 700 kali lipat. "Ah itu mah nanti di akhirat kali. Teh.
Itu pun kalau Allah berkenan melimpahkan RakhmatNya buat kita.
Sekarang gimana caranya jadi orang ikhlas..susah niih euy ," ujarnya
sambil meneruskan ketikannya di komputer.

"Tapi," kataku lanjut, "aku sudah merasakan sendiri ko bahwa kita yang
akan merasakan sendiri kaya gimana si hati, bahagia, seneng di saat
kita bisa memberikan sesuatu kepada orang laini, ya atau iya? Jadi
sesungguhnya keuntungannya ya kita sendiri yang akan merasakan
kebahagiaan itu." Iwan setuju dengan pendapatku terakhir ini.

***

Nah yang ini, rada aneh tetapi menarik, adalah yang terjadi pada
adikku yang bernama Wahyu. Selama ini ia merasa dirinya belum mampu
untuk berbuat, atau memberi, karena keterbatasannya, entah waktu atau
ilmu.

"Aku belum bisa terjun dulu, Teh. Apalagi memberi dalam bentuk materi.
Tetapi bukan itu masalahnya. Wahyu berkata, "aku sendiri masih
membenahi diri, agamaku masih pas-pasan, kondisi ekonomiku saja masih
morat-marit, juga aku belum bisa memberikan contoh yang baik sebagai
sosok muslim yang sholeh. Jadi maaf ya Teh, aku belum bisa bantu
apa-apa dulu deh," ujarnya ketika aku mengundangnya untuk bergabung di
sebuah paguyuban.

Rasanya kecut juga hati ini. Padahal selama ini dia selalu kritis
terhadap keadaan sosial di negeri kita, banyak memberi saran, banyak
mengharap tapi kenapa giliran kuajak gabung, ko malah menghindar ?
Mungkin ia masih beralasan bahwa keperluan diri pribadinya sendiri
masih banyak, masih merasa miskin materi atau miskin ilmu sehingga
tidak bisa membantu orang lain. Hanya dirinyalah yang tahu.

"OK adikku, kita hanya memberi peluang bagi mereka yang mau beramal,
bersadakah dalam bentuk tenaga dan waktu, dan semuanya itu harus
dilandasi oleh keikhlasan." begitu jawabku untuk adikku yang satu ini.
Padahal, bukankah Islam, agama kita, mengajarkan kita untuk tetap
bersedekah di waktu lapang maupun di waktu sempit? Seperti dikatakan
di surat Ali-Imran: 133-134 :

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga
yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang
yang berbuat baik."

Artinya : Anjuran mulia dari Allah swt ini bermakna, bahwa dalam
kondisi sesulit apa pun, manusia masih bisa memberikan sesuatu di
jalan Allah. Meski cuma sedikit, secuil, yang terpenting adalah
pemberian dilakukan dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridho Illahi.

Tapi aku bisa memaklumi bahwa setiap orang memiliki sikap, prinsip dan
pemahaman yang berbeda-beda. Tergantung dari pemahaman dasar dan
naluri keTauhidan kita masing masing. Yang aku yakini, sekali kita
bersyahadat, bertestimoni, atau memberikan pengakuan, maka di situ ada
sebuah perjanjian, komitmen.

Seyogyanyalah testimoni atau kesaksian ini dipelajari, dipahami hingga
mampu merembes turun ke dalam sanubari kita. Sehingga bukan cuma
sekedar basa-basi, karena born muslim, pemantes, untuk mengisi spasi
kosong di KTP atau cuma sekedar ucapan yang hanya terhenti sampai di
kerongkongan belaka.

Adiku Iwan, dulu rajin memberikan tausiah lewat telefon. Misal input
atau masukan seperti ini: "Teh, jadikan sebuah kebiasaan membaca
Al-Quran, lalu kita baca makna dan pahami isinya. Juga hadith. Lalu
kita pilih, pahami, ayomi dan mencoba mengamalkannya. Tidak usah
banyak banyak, pilih yang kita suka, jadikan favorit, "ujarnya.

Dari buku karya Dr. Yusuf Qardawi yang berjudul Fiqih Prioritas telah
aku temukan beberapa petikan hadith yang aku suka, lalu kupindahkan ke
buku harian. Buku itu sendiri sudah tampak lecek karena berulang-ulang
kubaca, penuh coretan di sana sini. Ada beberapa hadith yang kuhafal
dan yang satu ini kumasukkan ke hati dan mencoba untuk mengamalkannya:

"Barangsiapa yang membantu menyelesaikan kesusahan seseorang di dunia
(lebih-lebih lagi saudara sesama Islam), niscaya Allah akan membantu
menyelesaikan kesusahannya di dunia dan akhirat". (Imam Bukhari)


London, pertengahan Januari, di pagi hari. Aku terus terpukau oleh
birunya langit serta binarnya sang mentari. Semua itu nikmat dan
pemberian dari Allah semata. Aku kini terus mencoba mensyukuri semua
nikmat yang Allah berikan itu dengan menyusuri makna terdalam dari
aktivitas memberi. Kemudian berjuang sebisaku, untuk melakukannya.
Saya yakin, Anda telah pula melakukan hal yang juga serupa.
Last Updated ( Thursday, 08 February 2007 )
 
< Prev   Next >
 
Member Online
No Users Online
 
 Top
WOSM
Asia-Pacific Region
Pramuka
HIPPRADA
Scout Fellowship